KHUTBAH JUMAT : SYIRIK MALAPETAKA DUNIA ISLAM - HARI TAUBAT DAN WAKTU MUSTAJAB

>

KHUTBAH JUMAT : SYIRIK MALAPETAKA DUNIA ISLAM

Masjid Taqwa Seritanjung, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Indonesia
SYIRIK MALAPETAKA DUNIA ISLAM
Rabu, 11 Februari 09
www.alsofwah.or.id  http://arozakabuhasan.wordpress.com/
Oleh: Abdurrahman Nuryaman
KHUTBAH PERTAMA:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Tak ada dosa yang lebih besar daripada syirik; dosa yang tidak diampuni oleh Allah, pelakunya dihukumi keluar dari Islam, di Hari Kiamat dia kekal di dalam neraka, dan surga diharamkan baginya, bila mati dalam keadaan musyrik, dia tidak dimandikan, tidak dikafankan dan tidak dikuburkan di tengah kuburan kaum Muslimin, dan semua amal ibadahnya gugur tak ada artinya.
Perhatikanlah peringatan-peringatan Allah berikut:
Dalam Surat Al-Ma’idah: 72 Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam,’ padahal al-Masih (sendiri) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.”

Dalam Surat al-Furqan ayat 23 Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang musyrik,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً
“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
Dalam surat an-Nisa`: 48 Allah Ta’ala memberikan peringatan yang keras,
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”
Dan kemudian di dalam surat az-Zumar ayat 65 Allah Ta’ala menegaskan,
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi’.”

Dan masih sangat banyak ayat dan hadits yang memperingatkan dari bahaya syirik.
Menyimak dan memperhatikan peringatan-peringatan di dalam ayat-ayat ini, tentu sangat mengerikan bagi seorang Muslim. Gambaran yang amat jelas, bahwa memang tidak ada dosa yang lebih besar dan lebih berbahaya daripada mempersekutukan Allah. Semua ulama yang menulis kitab tentang dosa-dosa besar menempatkan syirik sebagai dosa yang paling besar. Di antaranya,
-Al-Kaba`ir, karya al-Hafizh adz-Dzahabi.
-Az-Zawajir Fi Iqtirab al-Kaba`ir, karya al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami.
-Al-Kaba`ir, karya Syaikh Muhammad at-Tamimi.
-Dan lain-lain.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Agar kita mendapatkan faidah yang lebih baik melalui khutbah ini, mari kita ulas masalah syirik ini dengan sedikit rinci.
Pertama, apa itu syirik?
Dalam Tashil al-Aqidah al-Islamiyah didefinisikan: Syirik adalah menjadikan suatu tandingan bagi Allah Ta’ala dan menyamakanNya dengannya, dalam Rububiyah, Uluhiyah, Asma` dan ShifatNya.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Agar faidah dan manfaat yang kita dapatkan dari khutbah ini lebih urut, lebih rapi dan lebih jelas, mari sejenak kita kembali melihat permulaan munculnya syirik di muka bumi ini.
Syirik pertama kali muncul pada umat Nabi Nuh ‘Alaihissalam. Jika kita perhatikan riwayat-riwayat yang ada tentang awal mula munculnya perbuatan syirik kepada Allah pada umat Nabi Nuh ‘Alaihissalam tersebut, kita dengan begitu mudah dapat menyimpulkan bahwa penyebab utama dan pertama adalah kultus individual (ghuluw) terhadap orang-orang shalih.

Kita tahu, bahwa pada mulanya umat manusia adalah umat yang satu di dalam tauhid, artinya tidak ada syirik kepada Allah Ta’ala, dan itu berlangsung selama sepuluh abad antara Nabi Adam ‘Alaihissalam dengan Nabi Nuh ‘Alaihissalam, sebagaimana riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas. Dan setelah sepuluh abad tersebut berlalu, muncullah orang-orang shalih yang nama-nama mereka disebutkan Allah dalam al-Qur`an surat Nuh. Mereka ialah, Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Mereka ini adalah orang-orang shalih yang bertauhid, ahli ibadah dan juga berdakwah menyeru kaum mereka kepada Allah. Mereka amat dicintai oleh kaum mereka, dan lebih dari itu, mereka adalah tauladan yang penuh pesona bagi mereka. Tapi justru malapetaka kemudian muncul dari arah ini; yaitu rasa ketergantungan mereka kepada orang-orang shalih tersebut mela-hirkan sikap pengkultusan dan ghuluw pada diri mereka.

Ini kemudian dijadikan kesempatan oleh setan untuk menjerumuskan mereka dan generasi sesudah mereka. Mulanya setan membisikkan kepada mereka agar membuat patung yang serupa dengan orang-orang shalih itu tadi, dan meletakkan patung-patung tersebut pada tempat-tempat ibadah mereka, sehingga apabila mereka melihat patung-patung tersebut, mereka akan teringat dan mengenang kehebatan ibadah mereka; dan dengan demikian semangat mereka untuk beribadah pun bertambah seperti mereka.

Mereka pun kemudian mengikuti bisikan setan tersebut, dan mulanya mereka hanya menjadikan patung orang-orang shalih tersebut hanya sebagai lambang atau prasasti yang berfungsi mengingatkan mereka untuk tekun beribadah dan beramal shalih. Dan memang, mereka pun merasakan diri mereka semakin bersema-ngat dalam beramal shalih dan rajin mendatangi tempat-tempat ibadah mereka. Padahal itu semua hanya tipu daya setan, karena itu hanya akan menjerumuskan mereka kepada perbuatan syirik.

Kisah awal mula munculnya syirik ini disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, no. 4920.
صَارَتِ الْأَوْثَانُ الَّتِيْ كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوْحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ، أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ وَأَمَّا يَغُوْثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ عِنْدَ سَبَإٍ وَأَمَّا يَعُوْقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ، أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِيْنَ مِنْ قَوْمِ نُوْحٍ فَلَمَّا هَلَكُوْا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوْا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِيْ كَانُوْا يَجْلِسُوْنَ أَنْصَابًا وَسَمُّوْهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوْا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ.
“Berhala-berhala yang dulu (disembah) pada kaum Nuh menjadi (di-sembah) oleh orang-orang Arab (jahiliyah) setelah itu.Berhala Wad menjadi milik kabilah Kalb di Daumah al-Jandal, berhala Suwa’ milik kabilah Hudzail, Yaghuts adalah milik kabilah Murad kemudian menjadi milik Bani Ghuthaif di al-Jauf di negeri Saba`, berhala Ya’uq milik kabilah Hamdan, dan berhala Nasr milik kabilah Himyar untuk keluarga Dzu al-Kala’. (Mereka sebenarnya) adalah nama-nama laki-laki yang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, maka setan membisikkan kepada kaum mereka untuk mendirikan patung (arca) di tempat duduk mereka yang biasa mereka duduki. Lalu me-reka menamakan patung tersebut dengan nama mereka. Mereka pun melakukannya dan tidak disembah, hingga ketika kaum tersebut telah wafat, dan ilmu telah lenyap, maka berhala-berhala itupun disembah.”

Sampai di sini, tentu timbul pertanyaan, Kenapa setan baru bisa menyesatkan dan menjerumuskan sebagian manusia ke dalam perbuatan syirik pada zaman Nabi Nuh ‘Alaihissalam? Adalah karena setan telah memiliki perjanjian dengan Allah, di mana iblis, tokoh mereka yang utama, berkata sebagaimana yang diabadikan Allah Ta’ala,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
“Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis (ikhlas dalam bertauhid) di antara mereka.” (Shad: 82-83).
Sepuluh abad antara Nabi Adam sampai Nabi Nuh, umat manusia semuanya adalah orang-orang yang murni dan ikhlas bertauhid kepada Allah; tidak ada tempat bagi syirik di hati dan ibadah mereka, sampai kemudian muncullah orang-orang yang setengah-setengah dalam ilmu tauhid, sehingga tidak jelas dalam hati mereka yang haq dengan yang batil. Ilmu mereka yang tidak jelas itu-lah yang mengantarkan mereka terlalu bergantung kepada orang-orang shalih; dan inilah yang menyebabkan mereka mengikuti bisik-an setan untuk mengkultuskan orang-orang shalih tersebut.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Syirik yang berbentuk kultus terhadap orang-orang shalih ini, kemudian menyebar ke segala penjuru dunia, dan tidak terkecuali di Indonesia. Berikut ini sekedar gambaran bagaimana syirik kultu-isme terhadap orang-orang shalih ini telah menjadi bagian sejarah

kaum Muslimin yang hitam dan menakutkan.
Di Mesir, terdapat tidak kurang dari 6000 kuburan yang tersebar di berbagai kota dan desa; yang diagungkan dan disembah oleh kaum Muslimin. Di antara kuburan yang terkenal di sana, misalnya, adalah kuburan al-Badawi di kota Thantha. Dalam satu tahun terdapat satu musim, di mana orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru Mesir bahkan dari luar Mesir dalam jumlah besar ke kuburan tersebut, mirip dengan hari Wukuf di padang Arafah.

Di sana juga terdapat kuburan yang diklaim sebagai kuburan al-Husain Radhiyallahu ‘anhu, padahal sama sekali tak pernah berhasil dibuktikan bahwa itu adalah benar-benar kuburan al-Husain. Akan tetapi orang-orang berdatangan kepadanya, baik dari kalangan Sunni maupun dari golongan Syi’ah, untuk berdoa, meminta-minta, melakukan thawaf dan berbagai perbuatan syirik yang sangat mengerikan.
Kemudian di sana juga terdapat kuburan Jalaluddin ar-Rumi yang tidak kalah pamornya sebagai tempat melakukan berbagai perbuatan syirik; disembah dan diagungkan.

Di Suria, di kota Damaskus saja terdapat tidak kurang dari 194 kuburan yang juga disembah-sembah dan diagungkan, belum lagi di kota-kota dan daerah-daerah lainnya. Di antara kuburan-kuburan yang dipuja di sana terdapat kuburan seorang sufi yang dikenal sebagai seorang sufi yang sesat dan menyimpang jauh dari akidah Islam. Akan tetapi kuburnya justru menjadi tuhan yang disembah-sembah oleh orang-orang yang juga ikut tersesat seperti dia, dan tidak kalah ramai dengan apa yang terjadi di Mesir.
Di Turki, terdapat tidak kurang dari 481 masjid agung yang hampir seluruh masjid di sana, pasti ada kuburan di dalamnya, yang juga diagungkan.

Di Iraq, India, Pakistan, Yaman; di semua negara-negara Muslim terdapat ribuan kuburan yang disembah dan diagungkan.
Bagaimana dengan di Indonesia? Di berbagai daerah terdapat begitu banyak kuburan-kuburan yang disembah dan diagungkan oleh banyak kaum Muslimin. Di pulau Lombok terdapat makam Ketak, makam Rembige, makam Batu Layar, lalu makam Bengkel, dan banyak lagi yang lain; yang semuanya merupakan pusat-pusat penyembahan kepada kuburan. Demi Allah, seandainya bukan karena saya (penulis) pernah melihat langsung apa yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin di sana, niscaya saya tidak akan me-nyebutnya secara khusus. Mereka datang dari tempat yang jauh, dengan berkendaraan, bahkan mengeluarkan biaya, dengan membawa sanak saudara, hanya untuk shalat, dan berdoa di depan kuburan.

Dan di antara mereka ada yang membawa hewan ternak untuk disembelih di sana, bahkan ada pula yang melakukan thawaf di kuburan tersebut. Semua itu sungguh sangat mengerikan bagi mereka yang sedikit saja memiliki rasa ghirah di hatinya terhadap Allah. Dan hanya kepada Allah kita mengadu, semoga Dia berkenan menghancurkan kuburan syirik tersebut dan memberikan hidayah kepada semua kaum Muslimin.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Mudah-mudahan dengan ini, kita mendapat gambaran bahwa dunia Islam memang telah dikotori oleh syirik. Dan ini adalah masalah yang sesungguhnya paling besar dari sekian banyak problem dunia Islam. Para da’i, ustadz, kyai, dosen, pengajar, dan semua kaum Muslimin yang peduli kepada Agama Allah agar menyatu-kan visi dan misi, bahwa tugas utama mereka adalah memerangi syirik dan menegakkan tauhid. Kaum Muslimin harus bersatu dan mengumumkan secara terang-terangan, bahwa syirik harus dibasmi dari muka bumi ini; dan itulah tugas para rasul yang diutus Allah.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam begitu jelas mengharamkan segala hal yang da-pat mengantarkan kepada pengagungan kuburan.
Pertama, kedua, dan ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menga-puri, menduduki dan membangun kuburan.
Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
نَهَى رَسُوْلُ اللّٰهِ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kubur dikapuri, diduduki atasnya, dan dibuatkan bangunan di atasnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 970).
Keempat, dan kelima, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menulisi kuburan dan menginjak kuburan.
Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu,, beliau berkata,
نَهَى النَّبِيُّ أَنْ تُجَصَّصَ الْقُبُوْرُ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهَا وَأَنْ تُوْطَأَ.
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kuburan dikapuri, ditulisi, dibangun di atasnya dan diinjak-injak.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 1052 dan beliau berkata, “Hadits hasan shahih”, Abu Dawud, no. 3225; an-Nasa`i, no. 2028 dan 2029. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).
Keenam, menjadikan kuburan sebagai masjid, tempat beribadah, berdoa dan sebagainya.
Dari Aisyah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum,, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.
“Laknat Allah atas kaum Yahudi dan Nasrani, karena mereka telah menjadikan kubur-kubur para Nabi mereka sebagai tempat-tempat beribadah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).
Ketujuh, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melarang kaum Muslimin Shalat menghadap kuburan.
لَا تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلَا تُصَلُّوْا إِلَيْهَا.
“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula kalian shalat menghadapnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 16764; Muslim, no.973; dan lainnya).
Kedelapan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menghan-curkan dan meratakan semua kuburan yang menonjol dan tampak jelas lebih tinggi (dimuliakan), sebagaimana dihancurkannya patung dan berhala.
Dari Abu al-Hayyaj al-Asadi, dia berkata,
قَالَ لِيْ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ: أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِيْ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللّٰهِ a؛ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ، وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ.
“Ali bin Abu Thalib pernah berkata kepadaku, ‘Ketahuilah, aku me-ngutusmu berdasarkan sesuatu yang mana Rasulullah a mengu-tusku, yaitu hendaklah kamu tidak meninggalkan satu patung pun, kecuali engkau binasakan, dan tidak pula (engkau jumpai) kuburan yang ditinggikan (sehingga tampak mencolok) kecuali engkau meratakannya (dengan tanah).” (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 685; Muslim, no. 969, dan lainnya).

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Tidak cukup jelaskah semua ini, sehingga banyak orang yang mengagungkan dan menyembah-nyembah kuburan? Bila belum jelas, mari kita simak perkataan para ulama berikut yang menjelaskan kepada kita semua.

Imam an-Nawawi menukil perkataan Imam besar asy-Syafi’i. Kata Imam asy-Syafi’i, “Adalah dibenci (bila) kuburan dikapuri, dituliskan nama orang yang dikuburkan di atasnya dan lainnya, dan dibangun bangunan di atasnya.” (Lihat al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 4/266).
Al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami, seorang ulama bermadzhab Syafi’i yang terkenal, berkata dalam kitab az-Zawajir Fi Iqtirab al-Kaba`ir, “Dosa besar ke 93, 94, 95, 96, 97, dan 98: “Menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah)”, “Menyalakan lampu di atasnya”, “Menjadikannya sebagai berhala-berhala”, “Thawaf me-ngelilinginya”, “Mengusapnya”, dan “Shalat menghadapnya…” Kata beliau, “Yang enam ini dikategorikan sebagai dosa-dosa besar di kalangan madzhab asy-Syafi’i”.

Kemudian beliau berkata, “Begitu pula, shalat di atas kuburan dan mengagungkannya, dan ini adalah dosa besar, tampak jelas dari hadits-hadits yang telah disebutkan.”
As-Suyuthi dalam hasyiyahnya terhadap Sunan an-Nasa`i menukil perkataan al-Baidhawi yang mengatakan, “Manakala kaum Yahudi dan Nasrani melakukan sujud terhadap kuburan-kuburan para nabi mereka, kemudian menghadap kepadanya dengan peng-agungan karena kedudukan mereka dulu, kemudian menjadikannya sebagai kiblat ketika shalat, berdoa dan sejenisnya serta menjadikannya sebagai berhala-berhala; Allah melaknat mereka, dan kemudian melarang kaum Muslimin melakukan hal-hal seperti itu.
Dan asal mula perbuatan syirik itu terjadi karena diagungkannya kuburan dan menghadap kepadanya (dalam beribadah).”

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Semoga Allah melindungi kita semua dari perbuatan syirik yang dapat menghancurkan akidah dan ibadah kita.
Jangan lupa untuk bershalawat atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai Hari Kiamat nanti. Allah telah mengingatkan ini di dalam al-Qur`an.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.

Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta).
 
Ditulis dalam KAJIAN, KHUTBAH JUMAT, SITUSARA | Sunting

KHUTBAH JUMAT : 20110113 Hari Taubat dan Waktu Mustajab – alsofwah.or.id

Hari Taubat dan Waktu Mustajab
Kamis, 13 Januari 11
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkhutbah&id=235

Khutbah Pertama
Amma ba’du :
Ayyuhal muslimun ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan takwa yang sesungguhnya. Dan bersyukurlah kepadaNya yang telah menunjukkan anda kepada Islam dan menjadikan anda sebagai umat yang diberi banyak keistimewaan dan ditunjukkan kepada syari’at yang terbaik dan agama yang paling lurus. Alhamdulillah. Mudah-mudahan kita bisa menjadi orang yang pandai bersyukur.
Ibadallah ! Allah telah menganugerahi kita semua satu hari yang agung dan musim yang mulia. Allah memberinya keistimewaan sebagai hari berkumpul bagi umat Islam. Allah menunjukkan umat ini kepada hari itu secara khusus dan menyesatkan umat lainnya. Karena di dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Allah menyesatkan umat sebelum kita dari hari Jum’at. Orang Yahudi memiliki Hari Sabtu dan orang Nasrani memiliki Hari Ahad. Kemudian Allah mendatangkan kita lalu menunjukkan kita kepada Hari Jum’at.” (HR.Muslim, 856 )
Oh betapa agungnya hari itu. Ia memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki hari yang lain. Pada hari itu umat Islam berkumpul untuk melakukan kebaikan, berdzikir dan melaksanakan shalat di dunia, agar kelak di Akhirat menjadi hari kemuliaan, penambahan, dan keluhuran. Imam Muslim di dalam Shahihnya meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda :
“Sebaik-baik hari di mana ada matahari terbit adalah Hari Jum’at pada hari itu Adam diciptakan. Pada hari itu ia dimasukkan ke dalam Surga dan pada hari itu ia dikeluarkan darinya.” (HR.Muslim, 854 )

Ayyuhal ikhwah al muslimun ! Salah satu keistimewaan Hari Jum’at ialah Allah Subhanahu wata’ala mensyari’atkan kepada kita agar mengadakan pertemuan agung untuk menunaikan shalat Jum’at. Menghadiri shalat Jum’at adalah fardlu ‘ain (kewajiban personal) bagi setiap muslim yang memenuhi syarat dan tidak memiliki halangan. Oh betapa indahnya pertemuan yang diadakan pada hari yang penuh berkah ini karena pertemuan itu menunjukkan penyembahan kepada Allah semata. Dan pertemuan itu memiliki pengaruh positif di dalam kehidupan umat Islam dan masyarakat Islami secara umum.
Dalam pertemuan ini umat Islam saling berkenalan, ikatan akidah menjadi kuat, perbedaan materi, strata sosial, dan egoisme etnis melebur ke dalam satu cetakan. Generasi tua berbaris bersama generasi muda, orang kaya berhimpitan pundak dengan orang miskin.

Ini adalah peristiwa yang sangat indah dan pemandangan yang sangat agung. Di situ terlihat jelas potret persatuan, kebersamaan, kekuatan kasih, persaudaraan dan keterikatan umat Islam satu sama lain. Mereka bertemu di rumah Allah, di atas hamparan karpet ketaatan kepada Allah. Mereka merasakan permasalahan mereka dan memikirkan penderitaan mereka. Iman mereka menguat, hati mereka mengkilap, ketaatan mereka meningkat, dan perasaan mereka terhadap Islam bergerak cepat. Hati mereka menjadi lembut karena mereka mendengarkan peringatan, ilmu pengetahuan, dan nasihat melalui pelajaran per pekan yang penting di dalam Khutbah Jum’at. Maka mereka pun menjadi bersungguh-sungguh dalam memperbaiki kondisi dan merubah keadaan mereka ke arah yang lebih baik.

Sebab, mereka mendengarkan sesuatu yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Seperti peringatan tentang kewajiban dalam bidang akidah, ibadah, akhlak, pendidikan dan sebagainya. Atau peringatan tentang kemungkaran yang ada dalam bidang-bidang terebut. Atau kajian tentang isu-isu atau masalah-masalah sosial dan sebagainya. Atau mendengarkan sesuatu yang bisa mendekatkan mereka kepada Akhirat dan mendorong mereka berbuat untuk Akhirat. Efek dari pelajaran itu akan bertahan di dalam jiwa seorang muslim selama satu pekan dan buahnya terlihat jelas di dalam realitas hidupnya dan interaksi dengan masyarakat. Karena pelajaran-pelajaran itu menjadi titik tolak terbesar untuk melakukan aktifitas yang konstruktif dan perbaikan yang serius.

Ma’asyiral muslimun ! Menunaikan shalat Jum’at ini memiliki keutamaan yang besar dan pahala yang banyak. Apalagi bagi orang yang mau melaksanakan adab-adabnya, seperti mandi, bersuci, memakai parfum, menjaga kebersihan, berpakaian bagus, berpenampilan pantas, lalu mendengarkan khutbah dengan seksama. Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang melaksanakan wudlu dengan baik, kemudian mendatangi (tempat shalat) Jum’at, lalu mendengarkan dan menyimak (khutbah) dengan seksama, niscaya dosanya antara hari itu dan hari Jum’at (sebelumnya) akan diampuni, dan ditambah tiga hari.” (HR.Muslim, 857)

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antaranya apabila dosa-dosa besar dihindari.” (HR. Muslim,233)
Sebaliknya, orang yang meremehkan dan mengabaikan kewajiban yang agung ini diancam dengan ancaman dan peringatan yang keras. Di dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbarnya.
“Hendaknya orang-orang itu benar-benar menghentikan kebiasaan mereka meninggalkan shalat Jum’at atau Allah benar-benar akan menyegel hati mereka kemudian mereka benar-benar akan termasuk orang-orang yang lalai.” (HR.Muslim,865)

Dalam Hadits lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang meninggalkan tiga shalat Jum’at karena meremehkan, Allah akan menyegel hatinya.” (HR.Ahmad, 3/424-425, Tirmidzi, 500, Abu Daud,1052, An-Nasa’i, 3/88, dan Ibnu Majah, 1125)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Ia adalah munafik.” (HR.Ibnu Khuzaimah, 1857 dan Ibnu Hibban, 258)
Ikhwatal Islam ! Salah satu petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ialah menghormati Hari Jum’at dan melaksanakan ibadah-ibadah dan amal-amal mulia secara khusus.
Antara lain beliau menganjurkan agar kita memperbanyak membaca shalawat Nabi pada hari Jum’at. Aus bin Aus Radiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Sesungguhnya salah satu hari terbaik kamu ialah hari Jum’at. Maka perbanyaklah membaca shalawat untukku, karena shalawat kamu akan ditunjukkan kepadaku.” (HR.Ahmad, 4/8, Abu Daud, 1047,1531, dan An-Nasa’i, 3/91)

Petunjuk lainnya ialah memperbanyak ibadah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdo’a dengan harapan menemui waktu mustajab. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyebut Hari Jum’at, lalu beliau bersabda :
“Pada hari (Jum’at) itu ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim menepatinya dalam keadaan mengerjakan shalat seraya meminta sesuatu kepada Allah, melainkan dia akan memberikannya kepadanya.” (HR.Muttafaq ‘Alaih, Al-Bukhari, 935, Muslim,852)
Imam Muslim di dalam Shahihnya menyebutkan bahwa waktu mustajab itu ialah :
“Antara imam duduk sampai shalat berakhir.” (HR.Muslim, 853)
Sementara menurut banyak ulama’, waktu mustajab itu ialah saat-saat terakhir pada Hari Jum’at.
Petunjuk lainnya ialah bersegera dan berangkat lebih awal menuju masjid pada Hari Jum’at. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang berangkat ke masjid pada jam pertama seolah-olah ia berkurban seekor unta.

Barangsiapa yang berangkat pada jam kedua seolah-olah ia berkorban seekor sapi. Sampai beliau menyebut orang yang berangkat pada jam kelima seolah-olah berkurban sebutir telur. Lihatlah betapa jauhnya perbedaan antara pahala yang diterima oleh orang –orang yang berangkat lebih awal dan orang-orang yang berangkat belakangan.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian serius pada hari Jum’at yang agung ini ialah menjaga kebersihan lahir dan batin, dan memperhatikan kesucian fisik dan mental.

Hal lain lagi yang juga harus diperhatikan ialah menjaga etika dengan para jama’ah. Yaitu dengan tidak memisahkan mereka, mengganggu mereka, dan melangkahi bahu-bahu mereka. Karena ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seseorang yang melangkahi bahu-bahu orang banyak, beliau langsung menegurnya dan bersabda :
“Duduklah, engkau sudah menyakiti (orang banyak) dan datang terlambat.” (HR.Ahmad,4/188,190, Abu Daud, 1118 dan An-Nasa’i, 3/103 )
Di samping itu anda juga wajib menyimak apa yang dikatakan oleh imam. Bahkan haram hukumnya berbicara saat khutbah sedang berlangsung. Dan juga haram melakukan sesuatu yang mengalihkan perhatian dari khutbah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Jika kamu berkata kepada temanmu pada Hari Jum’at : ‘Dengarkan ! sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh kamu telah sia-sia.” (HR.Al-Bukhari, 934 dan Muslim, 851 )

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang menyentuh kerikil, ia telah sia-sia.” (HR.Muslim, 857)
Dalam hadits lain disebutkan :
“Dan barangsiapa yang berbicara (pada saat khutbah berlangsung), tidak ada Jum’at baginya.” (HR.Ahmad, 1/93, dan Abu Daud, 1051)
Wahai umat Islam ! Itulah beberapa keistimewaan dan keutamaan hari yang penuh berkah ini, serta apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim. Dan dengan mencermati kehidupan kita dan memperhatikan realitas mayoritas muslimin orang Islam terhadap hari yang penuh berkah ini, kita mendapat gambaran yang sangat jelas tentang kemalasan sebagian orang untuk melaksanakan kebajikan yang dikehendaki Allah untuk mereka. Juga tentang kelalaian mereka terhadap pahala akhirat, dan keasyikan mereka dengan kemegahan dunia. Hal ini memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kerasnya hati dan merosotnya akhlak.

Sebagian orang bahkan telah sampai pada tahap sombong dan menentang Syaria’at Allah. Karena mereka mendengar seruan yang mengajak shalat Jum’at atau shalat lainnya, tapi mereka tidak menghiraukannya. Mereka sedang menghadapi ancaman bahaya yang sangat besar dan berada di area yang sangat gawat.
Sebagian orang tergoda oleh setan sehingga suka terlambat ketika hendak shalat Jum’at. Mereka datang ketika khutbah dimulai, atau ditengah-tengah khutbah, atau pada waktu iqamat. Bahkan terkadang mereka melakukan sesuatu yang mengganggu hamba-hamba Allah dan melangkahi pundak-pundak mereka. Mereka itu telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan kebaikan yang banyak dan keuntungan yang besar, serta menghalangi diri mereka sendiri dari pahala Allah, dan melakukan sesuatu yang mengganggu hamba-hamba Allah.

Sebagian orang ketika masuk ke dalam masjid, ia merasa jenuh, berat, bosan dan malas terhadap kebaikan, keuntungan dan ilmu, ingin segera lepas dari khutbah dan shalat, dan lupa bahwa dirinya sedang berada di dalam kebaikan dan di atas kebaikan.
Sebagian orang suka membuat dirinya merugi dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebaikan, dan tidak peduli terhadap adab-adab Jum’at, dan mengabaikan kehormatan rumah Allah. Mereka suka berbisik sendiri, tidak mau mendengarkan khutbah, bermain-main dan sibuk dengan dirinya sendiri, anak-anaknya atau orang-orang yang ada di dekatnya.
Sebagian orang menjadikan masjid sebagai tempat rekreasi. Mereka asyik ngobrol dengan orang-orang yang mereka sukai, bahkan terkadang ketika imam sedang menyampaikan khutbah.

Sebagian orang tidak peduli terhadap kebersihan dan bau badannya atau pakaiannya. Sehingga mengganggu para Malaikat dan para Jama’ah yang berada di masjid. Dan boleh jadi mereka keluar dari masjid tanpa manfaat dan pengaruh apa pun. Sebagian orang bahkan tidak melaksanakan shalat selain shalat Jum’at dan tidak peduli terhadap shalat jama’ah. Terkadang ada yang beranggapan bahwa kehadirannya dalam shalat Jum’at dapat menghapus dosa-dosanya diantara dua Jum’at. Padahal janji ini hanya berlaku ketika tidak ada dosa besar yang dikerjakan. Dan dosa apa setelah syirk yang lebih besar dari dosa meninggalkan shalat. ?

Sebagian wanita mengikuti shalat Jum’at dengan pakaian yang cantik dan molek, dalam kondisi bersolek dan tidak menutup aurat, memakai perhiasan dan wewangian. Ini tidak boleh. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengizinkan kaum wanita datang ke masjid dengan catatan.
“hendaklah mereka (kaum wanita) keluar ke masjid tanpa memakai wewangian.” (HR.Ahmad, 2/438 Abu Daud, 565 dan Ibnu Hibban, 2214 )

Sebagian jamaah membiarkan anak-anaknya bermain-main di dalam masjid dan menggannggu orang lain. Di samping itu para pedagang masih terus berdagang dan tetap menjajakan dagangannya. Mereka merelakan dirinya kehilangan kesempatan untuk berdagang dengan Allah. Dan sebagian orang mengisi sebagian hari Jum’at ini dengan bersenda gurau, bermain-main, berlalai-lalai, larut dalam kesenangan dan tenggelam dalam kegiatan-kegiatan yang sia-sia. Atau mereka menjadikan hari Jum’at sebagai hari berdagang, ngobrol dan bersantai dengan hal-hal yang haram.

Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah, hormatilah kedudukan hari yang agung ini, dan isilah hari Jum’at dan hari-hari lainnya dengan amal shalih, maka anda akan beruntung.
بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua
Amma ba’du :
Ibadallah ! Bertkawalah kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan bersyukurlah kepadaNya yang telah mengarahkan dan menunjukkan anda kepada hari yang agung ini. Dan salah satu wujud syukur dalam konteks ini ialah memanfaatkan waktu-waktu dan saat-saat yang ada pada hari ini untuk melaksanakan amal shalih yang dianjurkan oleh syari’at. Seperti shalat, dzikir, istigfar, doa, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak bacaan shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Serta menjauhi segala macam kemaksiatan dan keburukan.

Sebab, dengan mengerjakan amal shalih tersebut, kita telah mengambil keuntungan dari musim yang penuh berkah ini. Dan memanfaatkan musim ibadah semacam ini dapat membuat kita enggan menerima hasil rekayasa akal manusia dan tipu daya hawa nafsu mereka yang rendah. Karena hal-hal semacam itu dapat merusak kemurnian kita dalam mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang pada hari itu banyak memberikan peringatan dan wasiat yang harus dimengerti oleh umat Islam sekarang ini. Karena Sunnah beliau merupakan garis yang harus diikuti oleh setiap muslim di dalam hidupnya, agar ia dapat beribadah kepada Allah berdasarkan ilmu yang jelas. Karena dalam suatu khutbah Jum’at beliau bersabda :
أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab :56)
( Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya .Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky

Subscribe to receive free email updates: